Chocolate War

19 March 2012
Comments Off on Chocolate War

Chocolate War

(Topik kuliah Manajemen Pemasaran 13 Maret 2012)

Pertarungan antara Hershey dan Mars.

The Hershey Company adalah produsen coklat terbesar di Amerika Utara, dengan pusatnya di Pennsylvania.  Didirikan oleh Milton Hershey tahun 1894. Merupakan perusahaan public. Produk Hershey dijual di lebih dari 60 negara seluruh dunia.

Mars, Inc., merupakan produsen permen dan coklat, didirikan di Amerika tahun1911 oleh Frank C. Mars. Mars, Inc. merupakan perusahaan keluarga.

Dalam peperangan untuk menempati posisi puncak sebagai produsen coklat terkemuka di Amerika Serikat, kedua perusahaan tersebut saling menggelar strategi, baik di bidang produksi mau pun pemasaran.

Namun pada era 1970-1980-an, keduanya mengalami ancaman yang sama, yaitu kampanye negative tentang konsumsi coklat terhadap kesehatan. Coklat merosot popularitasnya dalam klasifikasi makanan, sehingga dianggap makanan tingkat rendah.

Adanya Godiva Chocolatier (didirikan tahun 1926), produsen coklat yang memiliki konsep terobosan unik, yaitu coklat sebagai makanan yang mencerminkan selera yang anggun dan mahal, membantu mendongkrak popularitas coklat kembali. Godiva memperkenalkan butik coklat dan coklat yang dibuat khusus sesuai permintaan pelanggan.  Pada pasar seperti ini, harga bukan lagi merupakan masalah; semua produk akan dibeli tanpa mempedulikan harga.

Kembali ke perang coklat antara Mars dan Hershey, semakin lama semakin memunculkan banyak varian produk dan diluncurkan dengan berbagai brand, belum lagi dari sekian banyak produsen coklat lain dari seluruh dunia. Walau pun dari segi penjualan Mars dan Hershey bergantian memimpin, dan terakhir masih dipegang oleh Hershey, namun dengan semakin banyaknya brand coklat, maka brand akan kehilangan kepribadiannya (brands will lose their personality).

Hal lain yang patut dicatat adalah pernyataan Frank C. Mars tentang inovasi pada produk-produk coklat perusahaannya, yaitu bahwa bukan tanggapan pesaing yang penting baginya, melainkan tanggapan dari pelanggannya.

Maka Perang Coklat masih akan terus berlanjut….

***End***

Penetapan Harga dengan cara Auction

8 March 2012
Comments Off on Penetapan Harga dengan cara Auction

Penetapan Harga dengan Cara Auction

 (Kutipan Topik kuliah tanggal 01 Maret 2012)

Manajemen Pemasaran by Ujang Sumarwan

 

Auction atau lelang adalah proses pembelian atau penjualan barang atau jasa dengan menawarkannya, menerima penawaran, dan menjualnya pada penawar dengan harga tertinggi yang disepakati.

Jenis Lelang :

a.       English Auction

Penawaran harga dilakukan dari harga rendah ke harga tertinggi sebelum ditetapkan pemenangnya. Juga dilkenal dengan istilah open ascending price auction. Merupakan bentuk auction yang paling umum digunakan, termasuk di Indonesia..

Lelang dengan cara ini akan berakhir jika tidak ada lagi penawar yang mengajukan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan penawaran terakhir, dan penawar terakhir menjadi pemenangnya. Jika sebelumnya pelelang telah menetapkan harga minimum namun tidak ada penawar yang menawar mencapai harga tersebut, maka obyek lelang tetap tidak terjual.

 

b.      Dutch Auction

Penawaran harga dilakukan dari harga tinggi yang diajukan oleh pelelang, menurun sampai ada peserta lelang yang menerima harga penawaran tersebut.  Juga dikenal dengan istilah open descending price auction.

Pemenang akan membayar harga terakhir yang diumumkan. Dutch Auction dinamakan sesuai lelangnya yang paling terkenal, yaitu Lelang Tulip. Selain pada penjualan bunga potong di Belanda, sistem Dutch Auction juga diterapkan pada lelang barang-barang mudah rusak seperti lelang ikan dan tembakau. Secara umum, tipe Dutch Auction tidak banyak diterapkan.

4 Ps – 4Cs Marketing Mix dan Extended Marketing Mix (7Ps)

1 March 2012
Comments Off on 4 Ps – 4Cs Marketing Mix dan Extended Marketing Mix (7Ps)

4 Ps – 4Cs Marketing Mix dan Extended Marketing Mix (7Ps)

(Kutipan Materi kuliah tanggal 16 Pebruari 2012)

Manajemen Pemasaran by Ujang Sumarwan

 

Bauran Pemasaran (marketing mix) merupakan seluruh kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan sebagai cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan  target pasarnya.

Pada dasarnya Marketing Mix terdiri dari 4 P. Dari sudut pandang Konsumen, 4 P tersebut bisa dijelaskan dalam 4 C :

1.       Product  adalah Customer Solution

Produk adalah suatu materi yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen, baik berupa barang atau jasa.   Produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke suatu kelompok pelanggan atau pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan.  Artinya manfaat produk tersebut akan menjadi solusi dari kebutuhan atau keinginan konsumen.

Setiap produk memiliki siklus hidup, yang terdiri dari fase pertumbuhan, fase dewasa dan akhirnya fase penurunan. Pemasar harus memperhatikan dan memproyeksikan panjangnya siklus hidup produk tersebut, dan mempersiapkan diri terhadap berbagai tantangan yang berbeda untuk setiap fase dalam siklus tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam dan selalu berkembang, maka penciptaan produk tetap harus dikembangkan.  Juga bisa dilakukan penambahan variasi produk, atau melakukan bauran produk sehingga setiap produk akan menjadi komplementer bagi produk lainnya. tujuan akhirnya tetap untuk memuaskan kebutuhan konsumen.

2.       Price adalah Customer Cost

Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan oleh konsumen untuk memperoleh produk yang dipasarkan. Artinya Harga adalah besar pengorbanan konsumen untuk mendapatkan produk yang dapat memenuhi kebutuhannya. Bagi produsen Harga juga sangat penting karena menentukan tingkat laba perusahaan, dengan kata lain juga keberlangsungan perusahaan.

Dalam menentukan harga suatu produk, perlu diperhatikan nilai produk bagi konsumen. ‘Nilai Referensi’ (perbandingan harga produk dengan harga produk pesaing) dan ‘Nilai Diferensiasi’ (tanggapan konsumen terhadap atribut produk dibandingkan dengan produk lainnya), harus menjadi bahan pertimbangan.

Besarnya harga juga menjadi pertimbangan dalam menentukan segmen pasar yang dibidik, apakah dapat terjangkau oleh konsumennya atau tidak. Dengan demikian juga dapat diperhitungkan target penjualan yang akan dicapai oleh perusahaan.

3.       Promotion adalah Communication

Promosi dapat diinterpretasikan dalam dua cara :

  1. Dalam arti sempit : promosi berarti insentif untuk konsumen, misalnya promo diskon harga atau promo pengenalan produk baru dengan cara dibanderol dengan produk lama yang sudah populer.
  2. Dalam arti luas : Promosi adalah semua metoda komunikasi yang digunakan untuk memberikan informasi tentang produk kepada konsumen dalam target pasar.  Promosi adalah cara berkomunikasi kepada konsumen, baik melalui iklan, personal selling, atau Public Relation. Promosi juga bisa dengan cara Word-of-mouth yang merupakan komunikasi informal secara perorangan.  Sering dilakukan oleh tenaga sales. Promosi juga akan memberikan brand image konsumen terhadap produk.

 

4.       Place adalah Convenience

Place bermakna menyediakan produk pada suatu tempat yang memberikan kenyamanan bagi konsumen untuk mengaksesnya. Place juga bisa disamakan dengan channel atau distribusi. Penyebaran outlet-outlet di berbagai tempat strategis termasuk salah satu upaya untuk memenuhi kenyamanan ini.

Extended Marketing Mix menambahkan 3 P lagi, sehingga menjadi 7 P, dan merupakan strategi pemasaran yang mengembangkan variable yang controllable dari 4 P semula. Jika Bauran Pemasaran 4 P semula lebih diarahkan pada produk berwujud (goods), maka 3 P berikutnya lebih digunakan pada industri jasa.

Berikut ini adalah 3 P yang ditambahkan :

5.       People

People (orang) dibutuhkan untuk memulai proses transaksi.  Jadi semua orang yang secara langsung mau pun tidak langsung terlibat dalam penggunaan jasa oleh konsumen merupakan bagian yang penting dalam Bauran Pemasaran.  Karyawan dan manajemen yang cerdas sering memberikan nilai tambah yang tinggi pada total penawaran produk atau jasa dari suatu perusahaan.

6.       Process

Menggambarkan prosedur, mekanisme dan aliran kegiatan yang dialami konsumen tersebut untuk mendapatkan pelayanan jasa. Proses manajemen pelanggan tersebut merupakan bagian yang penting dalam suatu strategi pemasaran. Dalam pelayanan pelanggan, sejumlah proses terlibat dalam rangka keberhasilan pemasaran. Misalnya proses untuk penanganan keluhan pelanggan, proses mengidentifikasi kebutuhan dan persyaratan pelanggan, atau proses untuk menangani order. Proses yang dialami oleh konsumen dapat menentukan corporate image. Contohnya adalah proses yang dialami oleh konsumen dalam pengurusan klaim asuransi atau penutupan kartu kredit.

7.       Physical Evidence

Merupakan alat untuk meyakinkan konsumen. Memperlihatkan kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan, baik dengan bukti fisik yang mendukung komunikasi dan pelayanan, mau pun bukti tidak berwujud berupa pengalaman dari konsumen yang sudah ada dan perusahaan dapat memanfaatkan kesaksian pelanggan yang puas tersebut kepada calon pelanggan potensial lainnya.

Dari hasil browsing di internet, dapat ditemukan beberapa tambahan untuk Extended Marketing Mix lainnya, antara lain :

  1. Pace = kecepatan pengenalan produk-produk baru kepada konsumen di pasar.
  2. Perception = cara pandang sekelompok orang terhadap produk, terutama para konsumen.  Persepsi konsumen dapat direkayasa dengan berbagai informasi dan komunikasi.
  3. Packaging = kemasan merupakan kontak pertama pelanggan pada produk. Kesan pelanggan terbentuk pada saat pertama kali melihat kemasannya (first impression last longest).
  4. Publicity = pembentukan citra perusahaan harus dikembangkan untuk menarik pelanggan baru.
  5. Patience = terutama dalam industri jasa, kesabaran penanganan pelanggan sangat menentukan sukses tidaknya pemasaran suatu produk.
  6. Programming = pemanfaatan IT (Information Technology) untuk meningkatkan akses dari dan kepada pelanggan. Sangat menentukan dalam era E-commerce sekarang ini.

MP3E Indonesia by OBG

8 December 2011
Comments Off on MP3E Indonesia by OBG

Indonesia: Thinking big

 

Indonesia’s newly published economic master plan sets out ambitious targets to become one of the world’s biggest economies over the next 15 years. The plan unveiled by President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) also put the spotlight on the need for heavy investments in infrastructure coupled with improvement in the investment climate.

 

On May 27, President Yudhoyono unveiled the Master Plan for the Acceleration and Expansion of Indonesia’s Economic Development (MP3EI), which will carry the country through to 2025. It aims to make Indonesia, the 17th largest economy in the world last year, one of the world’s 10 biggest economies by 2025, taking GDP to $4.5trn and increasing the per capita income from $3000 now to $15,000.

To achieve this, the master plan seeks to raise average annual growth to 8-9% between 2015 and 2025, from around 6% now. The MP3EI also sets the target of bringing inflation down from 6% now to 3% by the middle of the next decade.

The plan outlines Rp4000trn ($468.5bn) in investments to be made over the next 14 years, including in infrastructure work. Some Rp544trn ($63.72bn) of government cash has been earmarked for investment to 2025, to be supplemented by Rp836trn ($97.93bn) from state firms.

At the MP3EI launch, Yudhoyono identified 17 projects worth Rp190trn ($22.26bn) in the plan that are expected to start this year, some of which had already been announced. They include hydroelectric and solar power plants; oil palm developments; a steel mill in East Java; new roads including toll motorways; mining projects; expansion of broadband internet; and nickel, cobalt and aluminium factories.

Another major project that the government has pledged to launch this year is the long-awaited Sunda Strait Bridge that would link Java and Sumatra, Indonesia’s most populous islands (and the first and fourth most populous in the world, respectively). The bridge is expected to cost Rp150trn ($17.57bn) and has been subject to planning delays.

While infrastructure and industrial investments have taken most of the headlines, the MP3EI also highlights the importance of moving Indonesia’s economy up the value chain and increasing the level of innovation. Through improving education and boosting school and university attendance, as well as expanding the industrial base, Indonesia aims to develop a more high-tech economy, exporting more tertiary goods and becoming less reliant on commodities, the prices for which have fluctuated greatly over the past five years.

Yudhoyono has acknowledged that Indonesia must first overcome some serious challenges if its vision is to be realised. He identified “five diseases that can make us fail”, including slow bureaucratic processes, conflicting interests in regional government (Indonesia has undergone a process of devolution in recent years), obstructive regulations, broken promises to investors and “unhealthy” political factors.

Despite these challenges, Indonesia has developed into something of an investors’ darling of late, particularly since the economic crisis, which the country weathered remarkably well. The country offers a large and thriving domestic market, access to much of Asia and abundant natural resources.

Business leaders have also drawn attention to the need for a renewed focus on economic reform to enhance the investment climate if growth targets are to be achieved, asserting that the private sector must take the lead in the longer term.

“Foreign direct investment has shown positive increases, demonstrating the level of interest from companies looking to capitalise on the growth of the region,” Mike Gundy, the president-director of BlueScope Steel Indonesia, the local wing of an Australian metals company, told OBG. “However, fiscal incentives and tax holidays are a necessary step if the country is to remain competitive in the region.”

As Yudhoyono noted, red tape is another common complaint cited by investors, and clearing the regulatory thicket around businesses and the limitations on foreign ownership in some sectors would be beneficial.

Indonesia is demonstrably one of the world’s rising economic powers, and has now set the target of shifting up a gear to become one of its very biggest in less than a generation. While public investments will play a crucial part in meeting this goal, a liberated and thriving private sector is the hallmark of an advanced economy.

© OXFORD BUSINESS GROUP PO Box 502 659, Dubai, UAE, T +971 (0) 4 426 4642

TUGAS SIM : Real World Case : Wolf Peak International

8 December 2011
Comments Off on TUGAS SIM : Real World Case : Wolf Peak International

WOLF PEAK INTERNATIONAL :

FAILURE AND SUCCESS

IN APPLICATION SOFTWARE

FOR THE SMALL-TO-MEDIUM ENTERPRISE

 

 

OLEH :

SAPTARIYANTI A.K. PUTERI

E-39

NIM  : P056110602.39E

saptariyanti39e.blogstudent.mb.ipb.ac.id

MB-IPB

Manajemen dan Bisnis –Institut Pertanian Bogor

2011

 

Wolf Peak International:

Failure and Success in Application Software

for

the Small-to-Medium Enterprise

 

 

One of the hazards of a growing small business is a software upgrade. If you pick the wrong horse, you may find yourself riding in the wrong direction. Correcting your course may mean not only writing off your first upgrade selection but then going through the agonizing process of finding a better software solution for your company. That’s what happened to Wolf Peak International of Layton, Utah, which designs and manufactures eyewear for the safety, sporting, driving, and fashion industries.

Founded in 1998; the privately held small to midsize enterprise (SME) also specializes in overseas production, sourcing, importing, and promotional distribution services. In Wolf Peak’s early days, founder-owner Kurt Daems was happy using QuickBooks to handle accounting chores. The package is user friendly and allowed him to drill down to view transaction details or combine data in a variety of ways to create desired reports. As the company prospered, however, it quickly outgrew the capabilities  of QuickBooks.

“As Wolf Peak got bigger, the owner felt the need to get into a more sophisticated accounting system,” says Ron Schwab, CFO at Wolf Peak International. “There were no financial people in-house at the time the decision was made to purchase a replacement for QuickBooks, and the decision was made without a finance person in place to review it.”

Wolf Peak selected one of several accounting software packages promoted to growing SMEs. By the time Schwab joined the company, the package had been installed for six months, following an implementation period that lasted a full year. “The biggest difficulty for QuickBooks users is to go from a very friendly user interface and the ability to find information easily to a more sophisticated, secured, batch oriented accounting system that became an absolute nightmare to get data out of,” notes Schwab. “So the company paid a lot of money to have this new accounting system, but nobody knew how to go in and extract financial or operational data used to make critical business decisions.”

There were other problems. Developing reusable reports was difficult, time-consuming, and expensive. The company paid IT consultants to develop reports for specific needs, some of which still had not been delivered, months after they were commissioned. Ad hoc reporting was similarly intractable. Furthermore, the company’s prior – year history in Quickbooks cannot be converted into the new accounting package. A situation like this creates serious problems.

Accustomed to keeping close tabs on the company’s operation, Daems found that he simply could not get the information he wanted. He began to lose track of his business. “He got so fed up he finally came to me and said he was ready to look at a SAP software alternative he’d heard about,” Schwab recalls. “He wasn’t ready to buy it, though, because he’d just sunk a lot of money into the new accounting package.”

One year after Wolf Peak had switched over to the new accounting software, Schwab called the offices of JourneyTEAM, a local SAP services partner, and asked their software consultants to demonstrate the  SAP Business One software suite.

SAP Business One is an integrated business management software package designed specifically for SMEs like Wolf Peak: The application automates critical operations including sales, finance, purchasing, inventory, and manufacturing and delivers an accurate, up-to-the-minute view of the business. Its relative affordability promises a rapid return on investment, and its simplicity means users have a consistent, intuitive environment that they can learn quickly and use effectively.

“We had a wish list from various company employees asking for a variety of capabilities,” recalls Schwab. “The JourneyTEAM people came in and demonstrated all those functionalities and more. They even generated four or five reports that we had spent several thousand dollars and several months trying to get from our other software consultants and had not yet received. Based on our data that they had input into Business One, JourneyTEAM put those reports together in an afternoon.”

Daems still had a few reservations: He needed the buying of his VP of sales and was concerned about cost. He still wasn’t ready to write off the recently installed accounting software. JourneyTEAM came in and gave another presentation for the Wolf Peak sales team and, following that, came back with an acceptable quote. With some pain, but also considerable relief, Daems wrote off the existing accounting package. “We felt the benefits of SAP Business One far outweighed the costs and time already invested in that software system,” Daems says.

Implementation of Business One took just seven weeks from the day of the initial sales presentation. “We implemented SAP Business One during our busiest period of the year with no disruptions,” notes Schwab. “It went better than I expected, in particular the cutover and conversion to Business One. JourneyTEAM did an amazing job of getting all our old records converted with no real problems at all. We met our June 30 deadline and cutover during the succeeding long weekend without incident.”

Schwab’s enthusiasm for SAP Business One is high. “This is the best accounting program I’ve ever worked with,” he says. “I can drill down to anything I want. And with the XL Reporter tool; I can build reports on the fly.”

SAP Business One includes a seamlessly integrated reporting and financial analysis tool called XL Reporter that works with Microsoft Excel to provide instant access to financial and operational data. It report on live data drawn from a variety of sources including general ledger, receivables, payables, sales, purchasing and inventory software. “Now we’re building the reports we want,” says Schwab.  “To have a program like XL Reporter that lets us build custom reports, preset regular updates, and then work within Microsoft Excel-that’s hugely valuable to us. Nobody else offers the ability to do ad hoc queries so easily. Even people who aren’t serious programmers can go in and create the documents they need within the limits of their authorizations. So I highly recommend it.”

For years, Daems had been running an open receivables report that presents, for example, all the invoices that are 15 days past due and greater than $450. Unfortunately, he simply could not run a report like that with the software package he bought to replace his old QuickBooks program. That situation has now changed.

“With SAP Business One, we can go in there and ask for those parameters and then sort it by oldest, biggest amount, or customer,” says Schwab. “And it’s paperless. The accounts receivable person doesn’t have to print anything out and then write a bunch of notes on it and type them into the system for someone else to find. It’s all right there.”

Wolf Peak also requires a very complicated commissions report, used to generate the checks that go out to the company’s commissioned sales representatives, who receive individualized reports as well. The previous consultants were unable to deliver this set of reports. JourneyTEAM was able to develop it on Business One in an afternoon.

Wolf Peak is already expanding its use of SAP Business One into other areas. The company has applied the software to warehouse management, where it enables Wolf Peak to manage inventory, receiving, warehouse delivery, shipping, and all the other aspects of the warehousing task. Inventory is one of the company’s biggest assets, and it has to be managed well. “We have an audit report that lists all of the inventory, the current on-hand quantity, and the demands on it through sales orders or outstanding purchase orders,” Schwab says.

This report then lists the value of that inventory and allows Schwab to look at the activity against any inventory item during any period. Beyond that, it enables him to drill down to the actual invoices that affect that inventory item. “We want to minimize what we have on hand,” he says, “but we always have to be sure we have enough to meet our customers’ needs. Business One lets us do that.”

Wolf Peak’s management has also begun using the customer relationship management (CRM) functionality within Business One to assist with its collection of receivables. The company’s plan is to extend its use of the software to develop and track sales opportunities as well. Three months following its installation, Wolf Peak is quite happy with its decision to go with SAP’s Business One software. “Reports that used to take months to create-if we could get them at all-can now be created in minutes,” says Schwab.

A less tangible but no less important benefit is the renewed confidence Business One brings to management. “A company’s greatest untapped asset is its own financial information,” says Schwab. “SAP Business One creates an environment where the decision makers get the information they want on a timely basis, in a format they can use. It’s amazing what happens when management begins to see what is really happening inside the enterprise. Business One delivers useful information to help make good business decisions-and that’s really the bottom line. This is a business management tool. ”

 

Source: Adapted from SAP America, “Wolf Peak : Making the Best Choice to Support Growth,” SAP BusinessInsights, March 2007; JourneyTEAM, “Wolf Peak Success Story-SAP Business One,” ABComputer.com, March 2007.

 

CASE STUDY QUESTIONS

  1. What problems occurred when Wolf Peak upgraded from QuickBooks to a new accounting software package? How could these problems have been avoided?
  2. Why did SAP’s Business One prove to be a better choice for Wolf Peak’s management than the new accounting software? Give several examples to illustrate your answer.
  3. Should most SMEs use an integrated business software suite like SAP Business One instead of specialized accounting and other business software packages? Why or why not?

 

REAL WORLD ACTIVITIES

This case demonstrates failure and success in the software research, selection, and Installation process, as well as some major differences among business application software packages in capabilities, such as ease of use and information access for employees and management. Search the Internet to find several more examples of such success and failure for software suites like SAP Business One or Oracle E-Business Suite and specialized business packages like QuickBooks or Great Plains Accounting.

 

 

 

PEMBAHASAN

Q.1.

Pada saat Wolf Peak mencoba meningkatkan dukungan sistem informasi dengan menggantikan QuickBooks ke paket software akuntansi baru yang memang dipromosikan untuk meningkatkan kinerja UKM, manajemen Wolf Peak percaya pada kemampuan software tersebut berdasarkan informasi dari tim konsultan software baru. Namun karena pada saat upgrading tersebut terjadi tidak ada pejabat atau staf keuangan Wolf Peak yang dapat dilibatkan untuk memberikan masukan dan ikut menguji kemampuan dan adaptabilitas software tersebut pada proses bisnis Wolf Peak, maka keputusan manajemen untuk menerima instalasi software baru tersebut menjadi suatu kegagalan.  Software akuntansi yang baru tidak dapat memberikan data informasi bisnis yang diharapkan oleh top manajemen, sehingga keputusan-keputusan yang akan diambil juga terhambat.

Perubahan paling sulit dihadapi oleh para pengguna QuickBooks yang userfriendly dan mudah digunakan untuk menggali informasi, dengan beralih ke sistem yang lebih kompleks dan lebih ketat pengamanannya, ternyata malah sulit untuk mendapatkan data dan informasi.  Sampai enam bulan setelah Wolf Peak berinvestasi untuk menginstalasi paket software akuntansi yang terbaru, manajemen masih belum bisa memperoleh data dan informasi keuangan mau pun operasional yang dibutuhkan untuk membuat keputusan-keputusan bisnis.

Bahkan masalah masih ditambah dengan tidak bisa terciptanya bentuk laporan yang informatif, walau pun Wolf Peak sudah mempekerjakan sebuah tim konsultan IT. Bahkan walau pun sudah berbulan-bulan mengerjakannya, tim tersebut masih belum mampu menghasilkan satu bentuk laporan yang bermanfaat.  Lebih buruk lagi, seluruh data historis bisnis Wolf Peak yang ada di dalam sistem Quickbooks tidak dapat dikonversikan ke dalam sistem software yang baru, dan hal ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan top manajemen Wolf Peak, karena manajemen bisa kehilangan jejak dalampengendalian bisnisnya.

Masalah seperti yang dialami oleh Wolf Peak tersebut sebenarnya dapat diantisipasi dan dicegah terjadinya dengan melibatkan seluruh pakar yang dimiliki oleh perusahaan, dari berbagai bidang. Sistem atau software harus diposisikan sebagai alat untuk membantu pembuatan keputusan.  Namun bentuk dan data seperti apa yang dibutuhkan oleh manajemen, harus ditentukan oleh manajemen sendiri, bukan oleh alat tersebut. Pada kasus Wolf Peak, tidak adanya staf keuangan yang dapat memberikan masukan untuk persyaratan data dan bentuk laporan dari software yang baru, menyebabkan investasi perusahaan di software tersebut menjadi sia-sia dan bahkan membutuhkan biaya dan tenaga serta waktu lebih lanjut.

Q.2.

SAP Business One adalah software manajemen yang disainnya dikembangkan khusus untuk aplikasi pada bisnis UKM.  Merupakan paket terintegrasi, software ini dapat memproses informasi dari penjualan, keuangan, pengadaan, persediaan dan produksi, serta dapat menyajikannya dalam bentuk laporan yang mudah dibaca dan menggambarkan kondisi bisnis dengan jelas.

Kelebihan SAP Business One adalah invetasinya terjangkau dan pengembaliannya cepat. Kemudahan penggunaan menyebabkan pengguna dapat memakai dan memanfaatkan sistem ini dengan efisien. Sebelum diinstal, manajemen Wolf Peak sudah mengumpulkan daftar kebutuhan kemampuan sistem yang diminta oleh berbagai karyawan dari berbagai departemen. Tim dari JourneyTEAM yang mendemonstrasikan SAP Business One mampu memenuhi semua permintaan tersebut dan bahkan menerbitkan lima laporan sebagai tambahan informasi. Dengan software sebelumnya, selama berbulan-bulan informasi yang sama belum dapat dikeluarkan, walau pun sudah dikeluarkan biaya tambahan beberapa ribu dollar lagi. Dengan proses oleh SAP Business One, pekerjaan tersebut dilakukan dalam waktu singkat.

Implementasi dari SAP business One hanya butuh 7 minggu mulai dari presentasi awal. Implementasi yang dilakukan pada masa paling sibuk, ternyata tidak menyebabkan gangguan sedikit pun. Konversi data lama ke dalam SAP Business One sitem juga mudah dilakukan, tanpa masalah sama sekali.

SAP Business One dilengkapi dengan alat analisa danpelaporan keuangan yang disebut XL Reporter yang bekerja menggunakan Microsoft Excel untuk memudahkan akses segera ke dalam data operasional dan keuangan, seperti data neraca, piutang, hutang, penjualan, pengadaan dan persediaan. Sebagai contoh, pencatatan piutang dengan klasifikasi tertentu, dapat dilakukan dengan mudah, baik berdasarkan umur piutang, berdasarkan pelanggan atau berdasarkan jumlah piutang. Dan semuanya tanpa menggunakan kertas.

Untuk pembayaran komisi, Wolf Peak membutuhkan pelaporan yang rumit, seperti cek pembayaran komisi pada tenaga penjual tertentu, yang masing-masing juga memperoleh laporan komisi yang sama. SAP Business One dapat melakukan prosesnya dengan cepat.

Aplikasi SAP Business One pada bidang inventory juga memberikan hasil yang memuaskan. Manajemen dapat mengendalikan persediaan, penerimaan dan pengeluaran gudang, dan berbagai tugas pergudangan lainnya. Karena persediaan merupakan salah satu asset terbesar perusahaan, maka pengendalian inventory secara baik adalah suatu keharusan. Laporan dari software ini menghasilkan gambaran aktivitas pada setiap item inventory yang sedang berlangsung, setiap saat.

Manajemen Wolf Peak juga telah mengembangkan fungsi customer relationship management (CRM) untuk membantu pengembalian piutang. Bahkan direncanakan pemanfaatan software untuk mengembangkan peluang penjualan juga. Hanya dalam tempo 3 bulan, manajemen Wolf Peak sangat puas pada keputusannya untuk menginstalasi software SAP Business One.

 

 

Q.3

Satu  dekade yang lalu, UKM memanfaatkan komputer sebagai perkakas, namun sekarang sudah lebih dimanfaatkan sebagai media komunikasi.  Fakta menunjukkan bahwa terjadi peningkatan perdagangan elektronik ( e-commerce ) oleh UKM.  Teknologi Informasi memungkinkan terjadinya e-commerce antara pemasok dan pelanggan.

UKM dengan segala keterbatasannya dibandingkan dengan perusahaan besar, sebaiknya menggunakan paket  software yang sudah terintegrasi dibandingkan dengan menggunakan paket-paket software yang terspesialisasi (akunting, inventory, pengadaan, dan lain-lain, secara terpisah).

IT dapat memberikan manfaat kepada UKM sebagai berikut :

  1. Memperbaiki produktivitas dan kinerja
  2. Pengawasan internal operasi yang lebih besar
  3. Penerapan cara-cara baru dalam pengelolaan usaha
  4. Nilai tambah pada produk/jasa
  5. Membuka akses pasar yang jauh

Namun ada kendala umum yang terjadi pada UKM pada saat penerapan IT di perusahaannya, dan yang paling besar selain masalah biaya adalah tidak adanya tenaga spesialis IT dan mahalnya rekrutmen untuk itu.

Hal itulah yang menjadi pertimbangan bahwa software untuk UKM haruslah memiliki persyaratan dasar user friendly, mudah digunakan dan dipahami, dan  terintegrasi sehingga dengan input data yang sama, dapat dihasilkan laporan dari berbagai aspek manajerial, sesuai kebutuhan manajemen. Dengan sistem yang sudah integrated, manajemen UKM  tidak akan kesulitan mengkonversi data dan mengulang input data pada software lainnya, apalagi dengan keterbatasan adanya tenaga IT.

 

 

 

Keterangan :

SAP Business One software merupakan paket terintegrasi yang meliputi :

  • Manajemen keuangan – Mengotomatiskan, mengintegrasikan, dan mengelola semua proses keuangan dan akuntansi.
  • Manajemen Gudang dan manajemen produksi – Mengelola persediaan di gudang, melacak pergerakan saham, dan mengelola pesanan produksi berdasarkan perencanaan kebutuhan material.
  • Manajemen hubungan pelanggan – Menumbuhkan profitabilitas pelanggan dan meningkatkan kepuasan pelanggan dengan penjualan yang efektif dan manajemen peluang, dan dukungan purna jual.
  • Pembelian – Mengotomatiskan seluruh proses pengadaan dari pesanan pembelian sampai pembayaran faktur pada penjual.
  • Pelaporan – Beraksi dengan informasi yang cepat dan lengkap dan laporan real-time yang komprehensif.  Integrasi penggunaan SAP Business One dengan pelaporan dari  software SAP Crystal solutions.

 

Oracle E-Business Suite (EBS)

Oracle E-Business Suite (EBS), juga dikenal sebagai Aplikasi Oracle, adalah suite aplikasi bisnis terdiri dari sejumlah besar modul perangkat lunak yang berbeda. Beberapa modul adalah: Oracle Financials, Oracle Pemasaran, Manajemen Oracle Supply Chain dan Sumber Daya Manusia.  Oracle E-Business Suite banyak juga digunakan di perusahaan-perusahaan besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3848/1/08E00521.pdf

http://www.smecda.com/Files/infosmecda/misc/Strategi_Peningkatan_kemampuan.pdf

http://www.sap.com/sme/solutions/businessmanagement/businessone/index.epx

http://en.wikipedia.org/wiki/SAP_Business_One#

http://findaccountingsoftware.com/directory/sap/sap-business-one/

http://www.orafaq.com/wiki/E-Business_Suite

http://www.orafaq.com/wiki/Oracle_Applications_FAQ

 

Skip to toolbar